Meet The Legend: Meiyadi Rakasiwi
Interview

Meet The Legend: Meiyadi Rakasiwi

1mo ago

Apa kunci utama kala itu yang membuat Anda sukses bersama Persikad Depok sebagai pemain dengan catatan jumah gol mentereng di level kompetitif dan pelatih kepala yang berhasil menuntun tim ini promosi?

Banyak hal. Sebagai pemain, saya dan rekan-rekan setim membawa Persikad—di bawah asuhan pelatih kepala Kang Suryamin waktu itu—promosi dari Divisi Dua ke Divisi Satu. Sebagai pelatih kepala pada 2007, Alhamdulillah saya bisa mengantar Persikad dari Divisi Satu ke Divisi Utama. Tapi kesuksesan bagi saya bukan melulu soal pribadi, tapi bagaimana kita bisa mengangkat beragam aspek. Mengembangkan potensi pemain muda, perputaran ekonomi khususnya bagi pelaku UMKM, hingga hiburan dan ruang sosial bagi warga Depok.

Saya memulai karier di PSMS Medan, dan sempat membela PSP Padang dan PSBL Lampung sebelum akhirnya berlabuh di Persikad. Kala itu memang ada satu wartawan yang selalu datang meliput pertandingan dan mencatat torehan gol yang saya ciptakan pada periode 2001–2005, dengan capaian 50 gol.

Bagaimana Anda melihat sepak bola modern dibanding era Anda dulu?

Saat itu, yang terasa memang lebih cenderung fanatisme kedaerahan, masih semi-profesional. Tidak ada 'kontrak pemain' di era perserikatan sampai kala saya membela Persikad sistem gaji dan kontrak pun masih terpisah. Tapi sepak bola kita sekarang sudah melampaui olahraga biasa, sudah mengarah ke industri dengan prospek yang sangat luas. Perkembangan sarana, prasarana, dan aspek teknis seperti taktikal juga berkembang pesat.

Sejak memutuskan pensiun, Anda tetap terkoneksi dengan sepak bola kota ini sebagai Ketua Umum Askot PSSI Kota Depok. Bagaimana Anda membangunkan kembali sepak bola Depok setelah mati suri?

Saya memutuskan pensiun sebagai pelatih pada 2016. Perjalanan selanjutnya di sepak bola adalah ketika saya diminta menjadi Ketum Askot PSSI dan terpilih pada 2018. Dengan dukungan Pemerintah Daerah, saat itu kami mencoba menggairahkan kembali sepak bola Kota Depok dengan menggelar sebanyak-banyaknya wadah kompetisi di level akar rumput, itu program yang menjadi fokus kami agar geliat sepak bola di kota ini tetap terjaga. Untuk perkembangan klub-klub profesional yang dijalankan secara independen di Depok, kami hadir sebagai bagian yang membantu secara formal dan nonfornal, dalam arti administrasi, koordinasi, dll.

Satu pertanyaan usil untuk Anda... dua tim yang pernah Anda bela akan bertanding hari ini, mana yang Anda jagokan: Persikad atau PSMS?

PSMS memang menjadi klub tempat saya memulai karier sebagai pesepakbola, tapi Persikad menjadi tempat saya menutup karier sebagai pemain sekaligus pelatih. Siapa yang harus dijagokan? Hahaha... di mana bumi dipijak, ya di situ. Tapi bicara hubungan emosional tetap ada untuk PSMS, itu tidak pernah saya hilangkan. Saya tentu berharap Persikad dapat meraih pencapaian yang lebih baik dari era-era sebelumnya. Saya cukup memahami karakter sepak bola Depok sebagai pribadi yang pernah menjalani karier sebagai pemain dan pelatih Persikad, itu yang menjadi bagian dari proses saya hingga diberikan amanah memimpin dunia olahraga khususnya sepak bola di kota ini.

Apa pesan Anda sebagai legenda hidup Klub untuk para pemain Persikad saat ini?

Ya, saya berharap Persikad bisa benar-benar membawa nama baik Kota Depok dan meraih prestasi yang bisa dibanggakan. Hal ini tentu akan menjadi kebanggaan masyakarat kita. Apalagi jika nanti stadion baru sudah dibangun, Persikad akan menjadi bagian esensial di dalamnya. Tapi yang terpenting adalah untuk mencapai sebuah kesuksesan seluruh elemen harus saling bahu-membahu, di dalam dan di luar lapangan. Yang terbaik untuk Persikad musim ini!